Sabtu, 23 September 2017

4 (Empat)


Siang ini,  Minggu, 13 Agustus 2017, tak disangka aku kembali menulis. Kali ini pada bagian 4. Lucu memang. Ku pikir bagian 3 adalah yang terakhir. Maksud ku, saat itu aku berpikir dia yang akan menjadi pasanganku hingga menikah nanti. Lugu dan naifnya pikiran singkat dalam masa yang sedang bahagia-bahagianya kala itu.
Pada bagian ini, aku tidak mau kembali berharap ini adalah yang terakhir. Bukan aku meragukan, hanya saja berharap sesuatu yang belum terjadi ternyata tidak enak. Maka, jalani saja. Aku menjadi lebih baik, untuk diriku sendiri. Begitupun dengan dia. Mari dimulai saja bagian ini.
***

Kami bekerja disatu perusahaan yang sama. Satu tim juga.  Ia junior ku, baik dalam segi usia dan aku yang lebih dulu bekerja di tempat tersebut. Tinggi badan 175cm, kurus sedikit berisi, kulit sawo matang, dan memakai kacamata. Pertama kali melihatnya, biasa saja, tidak ada yang istimewa dalam padanganku terhadapnya. Ia pendiam. Tidak pernah mengajak ku atau teman perempuan lain berbicara-kalau bukan soal pekerjaan- atau sekedar basa-basi. Makan siang sendiri atau berkumpul dengan teman laki-laki lainnya. Pulang kerja pun ia langsung pulang. Dan satu lagi, ia tidak pernah merokok.
Omong-omong soal rokok, aku selalu penasaran dengan cowok anti-rokok. Bagaimana bisa jaman sekarang seseorang tidak merokok? Maksud ku, apa di masa sekolah ia tidak pernah berkumpul, bergaul dan nongkrong di pinggir jalan atau basecamp? Semua pasti merokok bahkan ditambah dengan komplimenter lainnya-minuman atau hal parah lainnya. Apalagi untuk seorang laki-laki. Bagaimana rasanya tidak merasa penasaran bahkan tidak mau mencoba untuk merokok? Ah sudah, kita tidak perlu membahas rokok dan asapnya itu saat ini.
Beberapa bulan kemudian aku dengar kabar ia menyukai teman perempuan ku. Temannya juga sih. Sebut saja perempuannya Kembang. Si cowok dinamai Mikroba. Aku bahkan ikut meledek saat teman lainnya bercanda akan hal cinta-cintaan itu. Kembang tidak melayani candaan tersebut, karna Kembang sudah punya pacar juga mungkin. Tidak jarang Kembang malah marah kalau sering diledek bahwa disukai laki-laki pendiam itu. Tak pernah aku merasa cemburu, saat itu akupun masih menjalani hubungan dengan dia-bagian 3-. Teman ku pernah meledek, “kenapa kamu ngga sama dia aja?-si Mikroba maksudnya-. Kan dia anak baik tuh. Masih polos juga”. Aku hanya tersenyum dan menjawab “ngga lah aku udah punya pacar. Pacarku juga baik”.
Hari demi hari berjalan seperti biasa. Datang, bekerja, istirahat, bekerja lagi sambil menunggu jam pulang tiba. Sering ku perhatikan, bagaimana bisa seorang cowok pendiam atau lebih seperti introvert begitu? Memang dia gak minat bergaul sama cewek-cewek ya? Memang dia gak mau punya pacar ya? Dan begitu banyak pertanyaan hinggap di kepala ku. Sampai aku sendiri berpikir yaampun untuk apa aku mikirin urusan orang lain? Kenapa aku jadi kepo sama dia? Kenapa aku mau tau lebih banyak tentang dia? Tentang kebiasaannya, hidupnya, pergaulan, dan hal lainnya. Mungkin aku cuma penasaran, gak lebih. Batinku.
Walaupun aku tipikal perempuan yang rame, ribet, heboh seperti ini, tetapi aku suka dengan cowok yang pendiam. Bahkan setiap diajak main kesebuah perkumpulan, komunitas/tongkrongan, yang menjadi pusat perhatianku adalah cowok paling diam diantara mereka he he he. Suka aja, daripada yang heboh juga. Adem, teduh, enak dilihat kalau cowok kalem tu.
Back to topic, aku diajak taruhan!
“kalau lo bisa dianter pulang sama Mikroba, atau dianter sampe stasiun Tebet ajadeh, nanti gue beliin makanan.” Aku diam, kenapa temanku mengajak taruhan? Toh cuma diantar pulang, sampai stasiun pula. Apa susahnya?
Besoknya, setelah jam pulang tiba, aku memberanikan diri menyapa duluan dan bilang: “nanti anter gue pulang ya, sampe stasiun ajadeh, gimana?”
Gila, bisa-bisanya aku mengucap kalimat se-frontal itu. Bahkan tanpa chit-chat diawal. Tidak menunggu lama, jawaban yang gak sempet terpikir keluar dari Mikroba,
“Maaf, saya buru-buru juga ada acara. Lain waktu mungkin ya. Sorry nih duluan.”
ANDAI KAMU TAU RASANYA. Itu penolakan, sehalus apapun intonasi suaranya, tetap saja itu sebuah penolakan. Besoknya, aku ngedumel sama temen yang ngajak taruhan. Dia ketawa ngakak, ternyata sebelumnya dia juga minta pulang bareng tapi ditolak juga. Gak lagi-lagi deh gue ngajak bareng.
***
Semakin hari hubunganku dengan pacarku saat itu semakin memburuk. Sampai tiba saatnya ia meminta hubungan ini diakhiri. Aku lemas membaca kalimat panjang yang ia kirim. Semua penjelasannya kenapa menyudahi adalah sebuah jalan keluar. Aku kecewa. Sempat aku menahan, apa semua gak bisa dibicarakan baik-baik? Apa menyelesaikan ini semua adalah jalan terbaik? Baru kali ini aku merasa sayang sebegitu sayang. Sedih sebegitu sedih. Kira-kira itu terjadi di pertengahan bulan Mei lalu. Aku merasa seperti tidak bergairah menjalani hidup. Terserah kau berpikir aku berlebihan, tapi itu yang aku rasakan saat itu. Menangis sampai subuh, tidak tidur dan pergi bekerja lagi. Menangis lagi. Kasihan sekali kalau orangtua yang selama ini membesarkan ku, mengetahui anak bungsunya menjadi naas.
Mata sembab, tidur tak cukup. Membuat ku kuyu. Banyak yang bertanya mengapa aku menjadi layu hanya karna ditinggal pacar? “Come on, hidup gak selemah itu”.
Aku bersyukur, tuhan menyatukanku dengan orang-orang baik, peduli, dan saling mengasihi. Aku dibekali banyak nasihat bahwa hidup blablabla. Sampai aku yakin, aku harus bangkit.
***
Sore itu selatan Jakarta lagi macet-macetnya. Aku menghela nafas panjang. Butuh waktu lama untuk bisa sampai stasiun Tebet. Tiba-tiba saat mau menyebrang jalan, aku dikagetkan dengan kehadiran seseorang. Dia berdiri di samping kanan ku-sambil memencet tombol untuk penyebrang- dan bilang “mau bareng gak? Tawarannya cuma sekali.” Aku nge-freeze. Belum sempat jawab, karena kendaraan sudah berhenti mempersilahkan aku dan pejalan kaki lainnya menyebrang.
“Kalo gak mau ya udah. Gak bakal maksa-maksa. Gue duluan.” Sambungnya lagi sambil berjalan menuju parkiran motor.
“Eh tunggu, barengin deh.”
Esoknya, aku tak menceritakan bahwa aku diantar Mikroba. Karna ia bukan barang taruhan.
Sejak sore itu, semakin sering kami berinteraksi. Karna sifat sanguinislah, mudah bagiku untuk berbaur dengannya. Semakin hari, kami semakin dekat. Kabar darinya menjadi kebutuhan. Ia datang menciptakan debar. Aku tak perlu bercerita tentang elegi yang masih basah. Ia tahu, apa yang belum lama aku alami. Tak jarang, aku masih menangis. Sedih itu masih ada. Dengan sabar ia mengusap bulir hangat di ujung mata. Tanpa ia bertanya. Tanpa ia memaksa aku untuk bercerita. Tanpa dia memaksa aku untuk segera melupa.
Baginya, masa lalu akan tetap ada, semakin kau bersikeras melupa, semakin tajam kenangan itu menyapa. Biarlah, rasakan, nikmati proses mengenang sampai semua memudar. Menghilang bersama angan yang pernah kalian impikan. Sekarang, aku yang disini. Menjadi tuan rumah baru bagi pintu hatimu.
Berulang kali aku memintanya untuk pergi
Berulang kali ia kembali
Aku menjauh
Hadirnya semakin merengkuh
Ku bilang tak  bisa melupa
Kau jawab tak apa teruskan saja:
Jika mengenang membuat mu senang, lakukan saja.
Aku suka membuat mu melakukan hal yang membuat dirimu bahagia, sayang.

2.00 pm
Terimakasih, Tuan Mikroba yang baik hati. Kau tak mengekang, tak melarang, malah menyuruh ku melakukan hal-hal yang ku sukai. Karena kau tahu, kemana aku harus pulang.
Kau tau kawan? Semakin digenggam erat, pasir pantai ditangan akan habis juga.
Dan ia memakai prinsip, aku merelakan kau dengan duniamu, mempercayakan hal-hal apa yang harus dan tidak boleh kau lakukan.
Dan perkara ditinggalkan atau meninggalkan, itu urusan nanti. Menjadi baiklah untuk dirimu sendiri. Perempuan baik tahu bagaimana cara untuk menjaga. Agar kehilangan orang tersayang karena diambil-alih tak lagi terulang.



Selamat datang hari baru.
Semoga nyaman di tanggal yang baru.
Happy 22 J


Ps: Ia adalah sosok yang berulang kali ku minta pergi pada tulisan “Intuisi”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...