Sabtu, 23 September 2017

The Unexpected Curug Cibeureum

Happy weekend sobat senja.
Beberapa waktu lalu (3/09/17) saya, bae, dan dua rekan lainnya berwisata dadakan ke kawasan Cibodas – Jawa Barat. Sebut saja kedua teman saya adalah Susan dan Dimas. Mereka adalah pasangan yang terjebak keadaan. Eh maksudnya mereka saling nyaman padahal masing-masing dari mereka sudah berpasangan. Haha skip.
Kami berangkat pukul 02.00 dini hari. Dengan menggunakan sepeda motor, kami menyusuri jalanan kawasan puncak dengan santai diselimuti hembusan angin yang menusuk-nusuk hangat. Sambil meluk yang bawa motor maksudnya he he. Tiba di Cibodas sekitar pkl 04.00. Kami rehat di salah satu warung yang saya rekomendasikan. Kebetulan sebelumnya pernah istirahat di warung yang sama. Adzan Subuh, saya, bae, dan Dimas sholat subuh jamaah di masjid terdekat. Susan sedang berhalangan, maka ia menjaga barang bawaan kami di warung tersebut. Sempat terpikir untuk menyewa villa/hotel. Apalagi ada aplikasi yang mempermudah pemesanan kamar secara online. Tetapi setelah dirundingkan, kami memilih tidur di warung saja. Jauh lebih ekonomis juga. Hanya dikenakan charge Rp 15.000/org.
Teman-teman tertidur pulas. Saya tidak tidur dan memilih melihat sunrise di luar. Pemandangan tinggi gunung Gede Pangrango menjadi landscape favorite pagi itu. Sebelumnya kami mencari referensi tempat wisata di Puncak:
ü  Taman Bunga Nusantara
ü  Taman Matahari
ü  Little Venice
ü  Kebun Raya Cibodas
“Itu gw udah semua, yang lain deh.” Protesku.
Karena sudah terlanjur berada di atas, kami memutuskan untuk hiking ke curug Cibeureum. Sempat browsing di mbah gugel mengenai seluk beluk curug dan jalurnya. Dan saya pikir mungkin sama seperti curug biasanya. Leuwi hejo, bidadari, curug nangka, dan lainnya yang pernah saya kunjungi. Treknya mungkin tidak terlalu berat, batinku. Dengan penuh percaya diri, kami siap menuju puncak Cibeureum. Jarak dari pos pertama (pos tiket) adalah 2,7km dengan waktu tempuh 45menit - 1jam normal perjalanan. Nyatanya kami butuh 1,5jam untuk tiba di curug. Awalnya saya sangat antusias, sampai di tengah perjalanan saya mulai ngos-ngosan. Jujur saya pecinta alam, tapi yang naik gunungnya nyuruh orang. Maksudnya, saya nggak kuat kalau harus naik gunung beneran. Nafas saya seperti terbatas untuk summit gunung. Daaannn....curug ini punya trekking ter-paraaaahh versi saya. Jalurnya sangat jauuuh. Kami banyak istirahat, jumpa dengan pengunjung lain yang pada selonjoran kaki. Ada ibu-ibu, bapak-bapak, sampai anak kecil yang ikut. Saya merasa it’s very challenging. Moso saya kalah sama anak kecil? Akhirnya saya terus berjalan, walau memerlukan bantuan.
“Aku gak kuat. Dorong aku dong!” pintaku sambil berjalan kecil.
“Nyusahin ngajak lumba-lumba ke gunung.”
Sepanjang jalan, saya bersama bae. Teman saya juga berduaan di belakang. Entah apa yang mereka bicarakan. Saya dan bae banyak bercerita dan tertawa kecil. Pokoknya jangan sampe saya bengong, nanti capek! Kami melewati Telaga Biru, dan berfoto. Kemudian sekitar 100 meter dari sana kami melewati Rawa Gayonggong. Disini ada papan petunjuk arah untuk pengunjung. Arah kanan adalah arah menuju Curug Cibeureum dan arah kiri menuju Gunung Gede Pangrango. Tertulis 10,5KM untuk menuju Gunung Gede. Pikiran saya waktu itu, GILA HEBAT YA ANAK GUNUNG. Trekking curug saja aku banyak mencuit. Jiwaku memang laut, bukan gunung. Eaaa.
90menit, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Huaaaah...worth it. Air curug yang seperti curug. Terdapat dua curug. Yang satu tinggi dan satu lagi sedikit rendah. Sebenarnya ada tiga curug, tapi yang satu lagi tersembunyi. Dingin. Padahal saya menyiapkan baju ganti, tetapi niat untuk mandi diurungkan, karena sudah lelah. Saya hanya bermain cipratan air, gagal jadi lumba-lumba curug euy. Di curug yang tinggi, saya melihat pelangi di kaki air. Wah, ada bidadari lagi mandi kali yaa.
Setelah di rasa cukup dengan aktivitas per-curug-an, pukul 11 siang kami turun. Persediaan air habis, sekitar 200 meter berjalan, saya membeli air mineral. Sebotol dibandrol harga Rp 10.000.
“Yah kok mahal mang?” godaku pada penjual.
“Saya naik-naik kesini. Lihat perjuangannya atuh neng.” Jawab si mamang sambil ketawa.
Yeeeu...setidaknya diriku pernah berjuang~
Jam 12.00 kami tiba kembali di titik nol Cibodas. Kaki ku pegal-pegal dan kami memutuskan untuk take a nap di warung awal. Jam 14.00 kami kembali menuju rumah masing-masing. Setibanya di rumah, kedua kaki saya memerlukan setengah tube krim otot pegal linu.
Point of view saya pribadi adalah perbanyaklah jalan-jalan. Walaupun betah di rumah adalah sunnah. Tetapi perlu juga-loh tidak membatasi diri. Mengeksplor lebih jauh dan berkontemplasi dengan alam. Alam itu luas. Allah menciptakan semesta dengan keindahan-keindahan di dalamnya dan untuk dinikmati. Jangan menjadi vandal. Cintailah yang ada di bumi maka langit akan mencintaimu. Satu hal lagi, jangan tinggalkan apapun selain hembusan CO2 heheheheh.


Get in touch, salam lumba-lumba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...