Sabtu, 23 September 2017

(Bukan) Sepotong Hati yang Baru

Terinspirasi oleh judul buku best seller Sepotong Hati yang Baru karya Tere Liye. Buku yang menceritakan tentang kumpulan fiksi legenda yang berulang kali aku baca. Ia yang membelikan aku novel ini. Aku suka membacanya, tapi sayang, karena dia bukan lagi sepotong hati (ku) yang baru.

17.07 p.m
17 Agustus 2017
Senja selalu saja menghadirkan kisah berbeda setiap harinya. Dan kali ini, aku menikmatinya dengan mendengarkan musik instrumental dan segelas coklat panas. Yiruma – Rivers Flows In You menjadi favorite di sore ini. Lantunan instrumen indah pianis memberi stimulus untuk membuat tulisan yang akan sedikit menyedihkan. Kau tahu, banyak cara untuk seseorang menyimpan memori yang pernah ia rasakan. Ada yang menyimpannya hangat dalam kotak berisi kumpulan foto, ada yang membuat lagu, puisi maupun tulisan.
Kenangan; terdiri dari barisan huruf yang mempunyai makna tersendiri bagi si Pengenang. Momen suka, duka, hangat, jelek, buruk, bahkan tragis sekalipun tetaplah kenangan. Semua tersimpan rapih dalam kubikal kecil di hati. Dan tanpa bermaksud ingin mengulang, sayang, maka biarlah aku mengenang.
***
            Mentari pagi sudah menyibakkan cahaya hangatnya menembus jendela kamar saat itu. Pukul 09.00 aku terbangun. Membuka selimut dan mengambil segelas air hangat. Bandung pagi selalu indah. Sapaan lembut selamat pagi ku terjawab dengan senyuman tipis. Ia masih mengantuk rupanya.
Kuputuskan untuk mandi lebih dulu, karena aku akan mengelilingi beberapa wilayah di kota ini. Tentunya tidak sendiri. Menaiki becak untuk menuju tempat pertama. Mencari sarapan dan berkeliling dengan jalan kaki. Aku berfoto-foto. Menikmati keindahan kota romantis. Dan benar, itu akan selalu. Selanjutnya kami melakukan perjalanan ke tempat lain dengan menggunakan mobil online yang kami pesan. Lelah menjelajah dan membeli beberapa oleh-oleh, pukul 17.00 kami tiba di Stasiun Bandung untuk pulang ke Jakarta.
Aku mencoret satu nama kota destinasi dalam bucket list-ku. Semoga semua nama tempat dalam notebook kecil ini bisa tercoret, tentunya bersama-mu. Hari terus berganti, aku yang semakin menyayanginya namun rasa takut akan kehilangannya pun semakin besar. Sejak lama aku sering bercerita kalau aku suka mendapat mimpi ia memiliki perempuan lain. Maksudku, ia menyayangi perempuan lain. Entah karena alasan apa, ia meninggalkanku. Aku selalu menangis ketika nightmare itu terjadi. Bukan hanya satu atau dua kali, namun lebih. Setiap aku bercerita, ia selalu menenangkan, ‘mimpi hanya mimpi, jangan kau anggap serius’. Tetap saja, berulang kali mimpi itu terjadi. Sampai suatu ketika, itu benar terjadi.
***
Akhir 2014, saat aku bersamanya, aku lupa menghapus chat dengan cowok lain. O..ow aku ketahuan. Ia marah dan hanya diam. Mengajakku keluar untuk membicarakan hal itu. Ia bertanya sejak kapan dan sudah sejauh mana kami-aku dan orang ketiga- berjalan. Aku menjawab seadanya. Sampai tulisan ini dibuat, aku tidak berani untuk mengingat jelas kejadian itu. Ia meraih tanganku, meminta untuk menatap matanya dan menjelaskan semua. Kau tahu ada hal yang membuat ku menangis, bukan karena aku ketahuan, bukan karena aku harus meninggalkan orang yang sudah masuk dalam hubungan kami, namun ketika malam itu, ia menggenggam tanganku semakin erat dan bertanya;
“Apa kurangnya aku? apa yang aku gak punya sampai kamu bisa kayak gini?”.
Seketika airmata turun tanpa bisa kutahan. Kulihat ia kuat-kuat menahan butiran hangat di ujung mata.
“Aku udah firasat, ini bakal terjadi. Aku selalu nampik sampai aku baca sendiri chat kalian udah sejauh itu. Aku mohon, kamu tinggalin dia. Kita mulai dari awal tanpa ada orang ketiga.”
Apa yang sudah kuperbuat bukanlah hal yang patut ditiru. Itu bukan hal pertama, ada kedua atau lebih dengan inti yang sama namun cerita berbeda. Dan berulang kali aku meminta maaf, dan lagi-lagi ia memaafkan. Tidak jarang ketika marah aku memaki-makinya secara langsung ataupun lewat ponsel. Sering kami bertengkar, selalu ia yang mengalah. Terbuat dari apa hati lembutnya itu. Tidak pernah ia membentakku apalagi memukul. Yang aku tahu, ia menyayangiku dan akan selalu begitu.
Ia yang selalu pulang kerja terburu-buru saat aku mendadak mengabarkan bahwa aku datang ke rumahnya. Ia yang membelikan ku jam tangan namun aku lupa menaruhnya dan hilang. Ia yang akan membelikan apa yang aku bilang, padahal aku hanya bercerita, demi tuhan aku tidak memintanya untuk membelikan barang yang aku butuhkan. Ia yang akan menjelaskan dengan sangat detail ketika tidak ada kabar seharian. Ia yang selalu bercerita tentang segala hal. Ia yang selalu tidak tahan untuk tidak membeli barang yang ia ingikan, dan ku anggap itu mahal. Ia juga yang terkadang memintaku ke warung untuk membelikan rokok-ini konyol dan nyebelin sih-. Ia yang selalu memberikan dompetnya ketika kami makan, nonton, atau berbelanja. Untuk hal ini, ia tidak pernah membayar sendiri, selalu setiap kami hanging-out, ia menyuruhku yang membayar dengan uang/kartu dari dompetnya. Jangan mengira aku matrealistis, kami saling berbagi untuk membayar. Entah mengapa dari dulu aku hanya tidak enak kalau senang-senang bersama tapi hanya diam dan tidak ikut andil. Ya kau tahu kan, ada orang-orang yang cuma maunya kenyang, senang dan hanya diam.
***
Hubungan kami mulai merenggang sejak kejadian akhir tahun 2014 itu. Kepercayaannya pada ku sedikit demi sedikit berkurang. Ia semakin posesif. Aku mempunyai jam malam, tidak boleh menginap di rumah teman, dan hal-hal larangan lainnya. Ku kira semua itu wajar, ia takut aku berulah lagi. Bulan dan tahun saling berganti. 2016, aku merasa tidak banyak kemajuan pada hubungan kami. Ditambah aku yang sering berbohong. Mengapa aku harus berbohong? Karena bila jujur, ia akan marah dan mendiamkan ku.
Aku pernah membaca sebuah kalimat ‘Jika kamu menyukai yang pertama dan jatuh cinta pada yang kedua, pilihlah yang kedua, karena jika kamu benar yakin pada yang pertama, kau tidak akan jatuh pada yang kedua’. Apakah suatu saat nanti kami tidak akan bersama-sama lagi? Apakah bahagia kami bukanlah kami? Maksudku, jika di antara kami dibuat bahagia oleh orang lain, apakah kami akan memilih orang lain tersebut atau mempertahankan yang kami punya?.
***
Aku ini perempuan egois, keras kepala, dan tidak mudah diatur. Tapi ia selalu sabar menghadapi semua sifat dan sikap burukku. Tidak jarang, setiap kami bertengkar, aku mengancam untuk putus. Namun tidak pernah sekalipun kata putus ia ucapkan. Hal-hal sepele selalu aku permasalahkan.  Semua salah yang aku lakukan, selalu ia maafkan.
Kesabaran, rasa takut kehilangan, dan rasa sayangnya padaku membuatku besar kepala. Kelemahannya padaku menjadi senjata bagi diriku yang secara tidak sadar untuk menguasainya. Sampai pernah dengan angkuh aku berkata ‘apapun yang aku lakukan nanti ia tidak akan meninggalkanku’.
Dan itu salah, pertengahan Mei 2017, ia memutuskan untuk pergi.
Berbagai cara aku lakukan untuk memintanya kembali. Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang tidak ia sukai. Aku akan menjadi seperti yang ia minta. Aku berjanji tidak akan berbohong lagi. Dan bodohnya, air mata ini selalu turun dengan mudah. Padahal aku tahu ia tidak suka melihatku menangis. Aku tidak menyerah karena aku yakin kami akan bersama-sama lagi. Ini saatnya aku yang berjuang untuk mempertahankan hubungan kami. Ironis bila kau tahu bagaimana kacau yang aku rasa. Ia tetap pada pendiriannya. Memintaku untuk memperbaiki diri, menjadi lebih baik untuk oranglain nanti. Memintaku untuk mulai menghargai dan tidak menyepelekan rasa sayang yang diberikan nanti.
Kita masih bisa berteman.”
Aku pasrah, menyerah, dan kalah. Andai ia tahu, seburuk apapun dulu hal yang ku lakukan tanpa ia tahu, aku selalu mempertahankan hubungan kami. Dan hal ini membuat ku sadar, menjaga hubungan dan mengotorinya secara bersamaan adalah salah.
Dan ia melakukan hal benar, meninggalkanku untuk membangun hubungan baru.
***
Sudah lama kami tidak sejalan
Aku saja yang tidak sadar
Aku dengan egoku
Kau dengan sabarmu
Sampai kau lelah dan tak tahan
Memilih pergi demi kebaikan kau dan aku, katamu
Aku setuju, asal kau berjanji akan bahagia
Terimakasih sudah menjaga
Terimakasih pernah menerima
Aku merelakan mu untuk perempuan lain,
yang telah sabar menunggu dan merawat lukamu sejak dulu.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...