Sabtu, 23 September 2017

Intuisi


Mungkin bisa dari sini, prolog indah yang ku rasa. Berulang kali aku dibuat jatuh cinta. Degup aneh ketika bertemu itu terus ada. Ia yang selalu aku tunggu kabar setiap harinya. Kami mempunyai mimpi yang sama. Bahagia.
2017, tahun ke-lima.
Banyak pengorbanan, air mata, kebahagiaan, tuntutan, bahkan kehadiran pihak yang tidak seharusnya hadir.
Bukan ia yang datang, tetapi aku yang meminta-nya memasuki pintu.
Bukan salah mu, bukan juga salah-nya. Dan ego-ku menyebut, ini juga bukan salahku.
Kau tahu, aku tidak meminta mu sempurna, aku tidak meminta kau selalu ada. Karena bagi ku, ‘selalu ada’ takkan pernah ada.
Kau tahu, aku menghargai kesibukan mu, dunia mu, teman-teman mu. Hingga kau lupa satu hal, kesibukan mu mengabaikan seseorang. Kau tentu tak sadar, sampai ia datang. Bertanya kabar. Ciptakan debar.
Ia tahu aku memiliki mu. Tanpa ku jelaskan, tanpa perlu ia bertanya. Berita burung yang ia dengar, aku sedang kacau. Padahal tidak, aku (mencoba) baik-baik saja.
Entah bagaimana cerita awal elegi ini. Aku yang meminta kau pergi atau aku yang melarikan diri?
Kau pun sama, bukan? Tidak menahan. Baik, ku anggap ini selesai.
***
Waktu berjalan, melewati hari sendirian. Langkahnya membayangi setiap langkah ku. Sampai saatnya kami sejajar, aku berhenti. Meminta ia berjalan lebih dulu. Kau tahu, intuisi ku masih menunggu.
Dan kepada-nya, kau tak perlu menunggu. Memulihkan kekecewaan bukan hal mudah. Dan aku, tidak ingin kau kecewa.
Terimakasih telah menjaga. Keluarlah, aku akan mengunci pintu. Tak perlu kau risaukan.
Pergilah.


--Intuisi-ku masih menunggu--

May 18, 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...