Mungkin bisa dari
sini, prolog indah yang ku rasa. Berulang kali aku dibuat jatuh cinta. Degup
aneh ketika bertemu itu terus ada. Ia yang selalu aku tunggu kabar setiap
harinya. Kami mempunyai mimpi yang sama. Bahagia.
2017, tahun
ke-lima.
Banyak pengorbanan,
air mata, kebahagiaan, tuntutan, bahkan kehadiran pihak yang tidak seharusnya
hadir.
Bukan ia yang datang,
tetapi aku yang meminta-nya memasuki pintu.
Bukan salah mu,
bukan juga salah-nya. Dan ego-ku menyebut, ini juga bukan salahku.
Kau tahu, aku tidak
meminta mu sempurna, aku tidak meminta kau selalu ada. Karena bagi ku, ‘selalu
ada’ takkan pernah ada.
Kau tahu, aku
menghargai kesibukan mu, dunia mu, teman-teman mu. Hingga kau lupa satu hal,
kesibukan mu mengabaikan seseorang. Kau tentu tak sadar, sampai ia datang.
Bertanya kabar. Ciptakan debar.
Ia tahu aku
memiliki mu. Tanpa ku jelaskan, tanpa perlu ia bertanya. Berita burung yang ia
dengar, aku sedang kacau. Padahal tidak, aku (mencoba) baik-baik saja.
Entah bagaimana
cerita awal elegi ini. Aku yang meminta kau pergi atau aku yang melarikan diri?
Kau pun sama,
bukan? Tidak menahan. Baik, ku anggap ini selesai.
***
Waktu berjalan,
melewati hari sendirian. Langkahnya membayangi setiap langkah ku. Sampai
saatnya kami sejajar, aku berhenti. Meminta ia berjalan lebih dulu. Kau tahu,
intuisi ku masih menunggu.
Dan kepada-nya, kau
tak perlu menunggu. Memulihkan kekecewaan bukan hal mudah. Dan aku, tidak ingin
kau kecewa.
Terimakasih telah
menjaga. Keluarlah, aku akan mengunci pintu. Tak perlu kau risaukan.
Pergilah.
--Intuisi-ku
masih menunggu--
May 18,
2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar