Dua-tiga bulan sudah kulalui.
Mencoba bahagia dengan satu hati.
Aku senang kembali dicintai.
Tapi sial, bayangmu masih saja menghantui.
Mencoba menerima
dengan lapang sebuah kepergian. Padahal baru kemarin kau menertawakan lelucon
bodoh yang kukatakan. Baru kemarin kau menjanjikan hal manis yang akan kita
bangun di masa depan. Nama untuk dua anak laki-laki dan satu anak perempuan
kecil yang kusiapkan. Alam begitu cepat mengambil semua memori. Lebih dari dua
ribu hari kita bersama. Sudah berapa banyak hal baru yang kita cipta? Setelah lebih
dari seratus hari sejak keputusanmu untuk pergi, aku masih saja begini. Berulangkali
memutar lagu yang memunculkan kau dalam ingatan. Lucu memang, kita yang sering
bertengkar dan aku yang membesarkan hal-hal sepele. Ambek dan amarah kecil yang
kulontarkan selalu kau anggap sebuah candaan. Aku ingat saat kita duduk saling
berhadapan di sebuah tempat makan, aku sedang kesal. Sampai makanan tersedia,
aku hanya diam. Kau makan punyamu, mengejekku dengan sebuah suapan yang
menjengkelkan. Ah, aku sedang kesal, tapi aku lapar. Itulah salah satu cara sederhanamu
untuk membuat mood roller-coasterku
seimbang.
Namun kini, kau
menghapus dan memutus semua kontak denganku. Aku tahu, itu semua perbuatan
perempuan barumu. Harusnya ia cukup tahu diri untuk tidak membatasi privasimu.
Atau ia lupa? Bahwa dirinya hanya sebuah keterlanjuran yang hadir dalam
keretakan hubungan kau dan aku dulu. Begitu banyak makian yang ingin
kutumpahkan untuknya, tapi aku sadar, jemari ini terlalu manis untuk merutuki
sebuah pengkhianatan.
Aku rindu melihat kau
memantik api pada sebatang rokok yang terselip di jarimu. Pelan kau hembuskan
asap dan mengipas-ngipas agar tidak mengenai wajahku. Aku tertawa. Aku rindu
semua hal yang tak dapat kujelaskan di sini. Aku menjaga perasaan-perasaan yang
cepat atau lambat akan membaca tulisan-tulisanku. Berdamai dengan rasa kecewa
terus aku lakukan. Menetralkan rasa sakit bukan hanya butuh waktu untuk sendiri,
namun aku juga butuh pengganti. Perlahan ku buka hati untuknya. Seseorang yang
kurasa lebih baik darimu. Aku menjalani hari bahagia yang baru. Ia merawatku
dengan segenap ketulusan hati. Namun nurani dan ambisi ini tak bisakah
seimbang? Lagi lagi aku kalah. Selalu kau menang dalam perang batin yang tak
kuinginkan. Aku menyayangi kekasihku, dan ia tahu aku belum mampu melupakanmu,
mantan kekasihku.
Hubungan ini rumit,
aku, kau, pacarku dan pacar barumu. Maaf jika ada kata yang menyakiti, tapi
bisakah semesta mengembalikan ia padaku saja? Tanpa pihak lain dalam cerita
ini. Maaf, egoku sedang besar-besarnya. Kenyataannya hatiku belum mampu
melepas. Hatiku belum mampu menerima. Hatiku belum mengerti sebuah keikhlasan
dalam merelakan. Hatiku masih berpegang teguh pada ambisi untuk mengembalikan
hal yang dulu aku miliki.
Dariku, yang masih belajar merelakan.
Jkt 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar