Pesan panjang yang kau ketik
untukku telah kubaca. Kenapa? Apa kau tidak cukup berani untuk membuat
keputusan ketika mata saling bertemu? Di
depanku kau sangat pandai menyembunyikan bom waktu. Membuatku tak sadar dan
terlena untuk terus menyakitimu. Saatnya tiba, kau menemuiku untuk memutar
arah. Tak melibatkan aku dalam perjalanan selanjutnya.
Hai, apa kabarmu?
Aku rindu. Maaf masih
saja menganggu. Bisakah kita bertemu? Pertemuan terakhir menyisakan tanya.
Maksudku, hanya aku yang banyak bertanya. Padahal dahulu kau sedang cerewet-cerewetnya.
Temuilah aku, penuhi janjimu bahwa kita masih bisa menjalani hubungan yang
lebih sederhana; sebagai teman. Aku tahu, pertemuan kemarin membuat senang kau
dan aku, bukan? Kau sendiri yang bilang. Namun, aku terdiam saat kau bertanya
sambil bersandar “bagaimana perasaan kekasihmu bila tahu kau masih menemuiku?”.
Aku bersyukur
mengetahui kabarmu yang baik-baik saja. Seperti saat ini, walau kabar baikmu
juga membawa pesan berbeda, tatapan hangat yang dulu tak lagi ada, dimana
salahku? Kau sendiri sudah bahagia, bukan? Kau bertanya apa kekasihku sekarang
membuatku senang? Tentu iya. Lalu, dimana salahku? Tak perlu dipungkiri, kau
menghindar! Kau secara sadar menyakiti dan meninggalkan aku sendiri. Kau juga
yang lebih dahulu memantapkan diri untuk memulai hari yang baru. Saat kau tahu
aku mulai bahagia dengan hidupku kini, perlahan bayangmu menjauh. Inikah yang
kau maksud berteman?
Aku belajar merelakan.
Kesalahan-kesalahan dahulu membuat ku sadar untuk tidak lagi menyakiti. Bayangkan
saja, kau yang menghapus cerita dan aku yang tetap menginginkan sebuah jumpa.
Kenyataannya kau melenyapkan dirimu dalam kisah kebahagiaan yang kau buat. Aku
tahu, dengan atau tanpa aku sekalipun, kau akan tetap baik-baik saja. Kau
simpan rapat-rapat, tidak kau deklarasikan pada khalayak. Diujung harap aku
berdoa semoga kau mendapat hal layak untuk masa depanmu kelak.
“Tak bisa lagi aku menyapamu sebebas dulu.
Tak bisa lagi aku menatapmu sehangat dulu.
Tak bisa lagi jemari kita bertemu untuk sejenak melepas rindu.
Terimakasih untuk pertemuan singkat, meski tak ada lagi percakapan di
dalamnya.
Dan perihal pintaku pada-Nya; agar kamu selalu bahagia, akhirnya tak lagi menjadi sia-sia”
Dan perihal pintaku pada-Nya; agar kamu selalu bahagia, akhirnya tak lagi menjadi sia-sia”
Langit yang sedang cerah-cerahnya.
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar