Senin, 16 Oktober 2017

Pesan Bulan Lima

Pesan panjang yang kau ketik untukku telah kubaca. Kenapa? Apa kau tidak cukup berani untuk membuat keputusan ketika mata saling bertemu?  Di depanku kau sangat pandai menyembunyikan bom waktu. Membuatku tak sadar dan terlena untuk terus menyakitimu. Saatnya tiba, kau menemuiku untuk memutar arah. Tak melibatkan aku dalam perjalanan selanjutnya.


Hai, apa kabarmu?
Aku rindu. Maaf masih saja menganggu. Bisakah kita bertemu? Pertemuan terakhir menyisakan tanya. Maksudku, hanya aku yang banyak bertanya. Padahal dahulu kau sedang cerewet-cerewetnya. Temuilah aku, penuhi janjimu bahwa kita masih bisa menjalani hubungan yang lebih sederhana; sebagai teman. Aku tahu, pertemuan kemarin membuat senang kau dan aku, bukan? Kau sendiri yang bilang. Namun, aku terdiam saat kau bertanya sambil bersandar “bagaimana perasaan kekasihmu bila tahu kau masih menemuiku?”.
Aku bersyukur mengetahui kabarmu yang baik-baik saja. Seperti saat ini, walau kabar baikmu juga membawa pesan berbeda, tatapan hangat yang dulu tak lagi ada, dimana salahku? Kau sendiri sudah bahagia, bukan? Kau bertanya apa kekasihku sekarang membuatku senang? Tentu iya. Lalu, dimana salahku? Tak perlu dipungkiri, kau menghindar! Kau secara sadar menyakiti dan meninggalkan aku sendiri. Kau juga yang lebih dahulu memantapkan diri untuk memulai hari yang baru. Saat kau tahu aku mulai bahagia dengan hidupku kini, perlahan bayangmu menjauh. Inikah yang kau maksud berteman?
Aku belajar merelakan. Kesalahan-kesalahan dahulu membuat ku sadar untuk tidak lagi menyakiti. Bayangkan saja, kau yang menghapus cerita dan aku yang tetap menginginkan sebuah jumpa. Kenyataannya kau melenyapkan dirimu dalam kisah kebahagiaan yang kau buat. Aku tahu, dengan atau tanpa aku sekalipun, kau akan tetap baik-baik saja. Kau simpan rapat-rapat, tidak kau deklarasikan pada khalayak. Diujung harap aku berdoa semoga kau mendapat hal layak untuk masa depanmu kelak.


“Tak bisa lagi aku menyapamu sebebas dulu.
Tak bisa lagi aku menatapmu sehangat dulu.
Tak bisa lagi jemari kita bertemu untuk sejenak melepas rindu.
Terimakasih untuk pertemuan singkat, meski tak ada lagi percakapan di dalamnya.
Dan perihal pintaku pada-Nya; agar kamu selalu bahagia, akhirnya tak lagi menjadi sia-sia”

Langit yang sedang cerah-cerahnya.


2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...