Selasa, 17 Oktober 2017

Ombak yang Menggoda

Awalnya aku hanya bermain di bibir pantai, mengubur kedua telapak kakiku dengan pasir. Membuat cetakan-cetakan istana kecil yang diperindah dengan batuan kering pinggir laut. Ombak-ombak datang, mengikis timbunan pasir dari kakiku. Aku berdiri. Pindah ketempat lain untuk menghindari ombak.
‘Hai, kemarilah!’. Aku mencari sumber suara. Tak kutemukan orang lain. Hanya ada aku. Ternyata, suara halus berasal dari ombak di tengah laut, ia melambaikan tangan, tersenyum hangat. Membuat ku ingin berlari menghampiri. Toh, tak akan  berbahaya kalau sedikit ke tengah, aku bisa berenang. Batinku.
Aku berlarian kecil menuju hal yang ku rasa menyenangkan. Kami bertemu dan aku menyapa lebih dahulu. Bertanya apa ia senang menjadi satu-satunya ombak paling besar? Bertanya sudah berapa banyak ikan-ikan kecil yang ia hempaskan? Dan bertanya hal menarik lainnya. Beberapa jam kami bermain, ia menyuruhku pulang—kembali ke bibir pantai. Akan beresiko berlama-lama di tengah laut. Ia mengembalikanku dengan sekali sapuan. Whusss...tunggulah, Tuan, aku akan kembali.
Esok pagi, aku diam-diam menghampiri. Angin kencang itu membantu tubuhku tiba di tengah laut dengan mudah. Ku tunggu ia tiba, sudah hampir tengah hari tak jua ada. Kuputuskan kembali ke darat. Namun kau tahu, disaat langkahku hampir sampai di bibir pantai, ombak besar datang. Menggulungku tanpa ampun. Aku meringis kesakitan. Mengapa ia menjadi jahat dalam sekejap? Kakiku keram. Tak mampu melawan. Usaha untuk berenang sia-sia. Ia terlalu kuat membawaku menuju tengah laut.
Di sinilah aku sekarang, menjadi batu karang bersama ikan-ikan yang dulu ia hempaskan. Andai waktu bisa terulang, tak akan mudah aku tergoda. Lebih baik menikmati ombak dari pinggir laut, daripada harus menghampiri dan mati tenggelam.


Untukmu, intermezzo-ku-dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...