Awalnya aku hanya bermain di bibir
pantai, mengubur kedua telapak kakiku dengan pasir. Membuat cetakan-cetakan
istana kecil yang diperindah dengan batuan kering pinggir laut. Ombak-ombak
datang, mengikis timbunan pasir dari kakiku. Aku berdiri. Pindah ketempat lain
untuk menghindari ombak.
‘Hai, kemarilah!’. Aku mencari
sumber suara. Tak kutemukan orang lain. Hanya ada aku. Ternyata, suara halus
berasal dari ombak di tengah laut, ia melambaikan tangan, tersenyum hangat. Membuat
ku ingin berlari menghampiri. Toh, tak akan berbahaya kalau sedikit ke tengah, aku bisa
berenang. Batinku.
Aku berlarian kecil menuju hal yang
ku rasa menyenangkan. Kami bertemu dan aku menyapa lebih dahulu. Bertanya apa
ia senang menjadi satu-satunya ombak paling besar? Bertanya sudah berapa banyak
ikan-ikan kecil yang ia hempaskan? Dan bertanya hal menarik lainnya. Beberapa
jam kami bermain, ia menyuruhku pulang—kembali ke bibir pantai. Akan beresiko
berlama-lama di tengah laut. Ia mengembalikanku dengan sekali sapuan. Whusss...tunggulah,
Tuan, aku akan kembali.
Esok pagi, aku diam-diam
menghampiri. Angin kencang itu membantu tubuhku tiba di tengah laut dengan
mudah. Ku tunggu ia tiba, sudah hampir tengah hari tak jua ada. Kuputuskan
kembali ke darat. Namun kau tahu, disaat langkahku hampir sampai di bibir
pantai, ombak besar datang. Menggulungku tanpa ampun. Aku meringis kesakitan.
Mengapa ia menjadi jahat dalam sekejap? Kakiku keram. Tak mampu melawan. Usaha
untuk berenang sia-sia. Ia terlalu kuat membawaku menuju tengah laut.
Di sinilah aku sekarang, menjadi
batu karang bersama ikan-ikan yang dulu ia hempaskan. Andai waktu bisa
terulang, tak akan mudah aku tergoda. Lebih baik menikmati ombak dari pinggir
laut, daripada harus menghampiri dan mati tenggelam.
Untukmu, intermezzo-ku-dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar