Rabu, 06 Maret 2013

Tiga

TIGA
Lelah hati dan fisik. Kuputuskan untuk tidur sejenak. Kupejamkan kedua mata. Gelap. Sunyi. Terlihat seseorang dari kejauhan membawakanku ice cream.
‘ini eskrim kesukaan kamu’ Dia memelukku dan berkata,
‘gue suka sama lo, sejak pertama kita ketemu.

Tak terasa, sudah 3 jam lebih aku terlelap. Diiringi lagu Too much love will kill you – Queen.
I’m just the pieces of the man I used to be
Too many bitters tears are raining down on me
I’m far away from home
And I’ve been facing this alone
For much too long
I feel like no-one ever told the truth to me
About growing up and what struggle it would be
In my tangled statenof mind
I’ve been looking back to find
Where I went wrong...

Aku tahu, dia pasti akan datang. Entah kapan. Aku tidak hanya berdiam diri. Berusaha mencari dan mencari. Dua kejadian buruk masa lalu tak akan membuat ku rapuh. Tidak akan terjadi kiamat kalau kita tidak punya pasangan, bukan? Aku mempunyai banyak teman lelaki. Mencoba mencari hiburan bersama mereka. Tapi tidak, hatiku tetap merasa sepi. Mereka hanya teman. Posisi mereka dihatiku tak pernah lebih dari sekedar teman.
Siang itu, aku mempunyai janji untuk bertemu dengan salah satu rekan. Kau tahu siapa dia? Dia adalah-yang kedua-diantara-mereka. Kau ingat bukan? Setelah pertemuan perdana kami saat merayakan malam pergantian tahun. Ini merupakan pertemuan kami yang kedua. Kami bertemu saat aku sedang ada masalah dengan-satu-diantara-mereka. Ia bisa membuatku tenang. Mencari jalan pintas untuk menyelesaikannya.
Aku merasakan sensasi berbeda saat berada didekatnya. Nyaman. Damai. Belum pernah aku merasa senyaman ini. Ia bisa menenangkan ku saat mengalami masalah. Ia dapat menjadi backing. Teman. Sahabat. Bahkan seperti kakak laki-laki ku sendiri.
Yang aku tahu, aku menyukainya. Aku menyayanginya. Mengapa aku baru menyadari setelah merasa sakit? Mengapa kami tidak dipertemukan lebih awal?. Mengapa ia hanya memendam rasa terhadapku? Ah sudahlah semua telah terjadi. Menyesalkan semuanya hanya membuang waktu.
Tak lama setelah pertemuan kedua itu, kami menjalin sebuah hubungan. Lebih dari teman, sahabat, ataupun kakak laki-laki. Ya, kami berpacaran. Dia tidak menembakku. Ia tidak melakukan ritual seperti mereka dengan segala macam omong kosong. Tak penuh dengan basa-basi. Ia mempunyai cara sendiri untuk menarik perhatian ku. Mempunyai daya pikat yang luar biasa. Ia mengungkapkan rasa sayang padaku. Awalnya aku ragu. Tak ingin merasa kegagalan seperti dua hal buruk lalu. Tetapi hati ku tak bisa diajak kompromi. Hatiku membutuhkan lem untuk merekatkan kembali puing-puing dinding yang telah hancur. Dan ia datang membawa lem perekat untuk menyatukan hatiku kembali.
Hari-hariku kembali ceria. Ia datang membawa sejuta senyuman. Melukis setiap hariku. Membawa ku terbang melambung tinggi. Terkadang menjatuhkanku hingga merasa sakit. Tetapi ia bisa menerbangkanku kembali. Humor dan canda serta ketulusannya membuatku berdiri saat terjatuh. He’s never let me to face this world alone.
Ia yang selalu ku ingat saat bangun dipagi hari. Yang selalu ku rindukan saat akan memejamkan mata dimalam hari. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Mata, hidung, bibir manis, kenyamanan saat berada dibalik punggungnya, pelukan hangat, dan semua. Semua. Akan ku ingat sampai kapanpun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...