Rabu, 06 Maret 2013

Satu

SATU
Hari ini hari pertamaku memasuki sekolah baru dijenjang yang lebih tinggi. Awalnya setelah lulus SMP aku akan mendaftar di sekolah keperawatan. Karena keadaan, ku urungkan niat ku dan mendaftar disalah satu sekolah kejuruan negeri di Jakarta. Masa MOPDB telah dilakukan selama 3hari. Dan ini saatnya aku memakai seragam putih abu-abu. Seragam yang kebanyakan orang bilang mempunyai sejarah tersendiri bagi yang memakainya.
Seperti hari sebelumnya, aku dan kawan-kawan akan melewati sebuah sekolah kejuruan lain sebelum kami tiba disekolah. Sesampainya dikelas, belum ada kegiatan belajar mengajar. Kami masih hanya berkenalan dengan penghuni sekolah beserta isinya. Ku perhatikan para senior dengan sambutan yang berbeda. Gaya, cara bicara, cara berjalan dan sikap mereka berbeda-beda. Aku tidak memperdulikan sikap mereka. Dan waktu begitu cepat. Tak terasa saatnya kami pulang kerumah. Dan lagi, kami melewati sekolah itu. Berwarna hijau. Panjang dan luas. Tak terlihat seperti sekolah. Lebih mirip rumah sakit. 
Keesokan harinya saat menuju sekolah, terlihat sekelompok pelajar berseragam biru lengkap dengan pangkat dikedua pundaknya sedang berkumpul di pinggir sekolah yang biasa aku lewati. Kupaksakan berjalan dengan kepala sedikit tertunduk. Seseorang menghampiri dan menegurku.
‘Hei boleh minta nomor handphone lo nggak?’ tanyanya mengagetkanku.
‘Sorry gue ngga megang handphone’ tolakku halus.
Hari berlalu begitu cepat. Berangkat ke sekolah dan pulang. Kegiatan belajar mengajarpun masih belum efektif. Menyenangkan.
‘Hei lo lagi, gue boleh kan tau nomor handphone lo? Nama gue Rian (disamarkan). Lo siapa?’ tanyanya serius.
‘Oh ya gue aven’ jawabku sambil menahan tawa.
Ini sudah ketiga kalinya. Ku berikan nomor handphone ku entah karena terpaksa atau kasihan. Ia kembali ke tempat bersama teman-temannya. Beberapa saat kemudian terdengar sorakan riang.

11 November 2011
Seperti biasa sebelum sampai di sekolah merupakan suatu kewajiban melewati sekolah hijau itu. Terdengar seseorang memanggil. Mengajakku ke suatu tempat yang tidak jauh dari tempat biasa ia kongkow.
‘Ada yang mau gue omongin. Lo mau nggak jadi pacar gue?’ sorotan matanya menembus cahaya matahari pagi. Bola mata coklatnya yang bundar sudah melihat jawaban yang akan ku berikan. Iya, mata indah itu sudah mengetahui.
***
Ia sering mengajakku bermain dengan teman sepermainannya. Ia begitu tulus. Terlihat saat ia menggandeng tangan ku di depan temannya.
‘sedih ya nonton film tentang ayah ini?’
‘iya aku inget ayah dirumah’
‘orangtua aku pisah aku biasa aja, masa kamu yang masih untuh sedih?’ candanya menghiburku.
Ia mengelap airmata ku dengan saputangan bertuliskan nama ayahnya.
‘jangan nangis ya’ ucapnya sambil mengecup pipi ku.
Perdana saat kami dibioskop. It's romance, isn’t it?
***
Sepulang sekolah ia mengajakku untuk bertemu. Sepertinya ada yang ingin ia sampaikan. Aku menerka-nerka kesalahan apa yang telah aku perbuat. Tak ada salah apapun. Pikirku. Di depan sekolah hijau itu ia memulai pembicaraan.
‘lo tau Rama (disamarkan) kan? Sahabat gue. Dia suka sama lo. Kita udahan aja ya. Gue nggak mau pertemanan retak’ ucapnya tanpa basa-basi.
Bagai tertarik ombak atlantis disiang hari. Tanpa menanyai kabar ku. Tanpa mengacuhkan cuaca super panas saat itu. Ia memutuskan hubungan begitu saja. Aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Aku tak tahu apapun dalam masalah kalian. Tanpa bertanya apa motif ia melakukan hal itu padaku. Tak ada jawaban bermakna keluar dari mulutku. Ia menatap kedua mata ku. Hening.
‘oh iya yaudah engga apa-apa’ jawabku sekenanya.
Bergegas aku meninggalkan tempat laknat itu. Tanpa salam perpisahan. Manis. Pahit. Entahlah. Persetan dengan cinta.
Tiba dirumah kulemparkan tas dan sepatu disembarang tempat. Melemparkan tubuhku diatas kasur. Siapa peduli hatiku berteriak kencang? Terkutuklah hari ini. Umpatku sambil meremas boneka pemberiannya waktu itu.
*two messages received*
‘maaf ya gue mutusin lo tibatiba. Gue juga ngga mau ngelakuin hal itu. Tp keadaan yang memaksa. Gue relain lo buat sahabat gue. Maaf ya’
‘Lo cewek pertama yang bikin airmata gue netes. Maafin gue. Tapi kita masih bisa jadi temen kan?’
Aku mengacuhkannya. Sedih, marah, kecewa, semua bercampur jadi satu. Biarlah kamar dan seisinya yang mengetahui apa yang aku rasakan.


11-11-11. Tanggal jadian bagus tidak menjamin hubungan berjalan mulus.


ps: cerita ini hanyalah sebuah cerita. nyata dengan sedikit perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...