SATU DIANTARA DUA
Berawal dari kisah seorang teman sekelas ku mengenai kekasihnya yang bersekolah di salah satu SMK Negeri di Jakarta. SMK N 1 Jakarta atau lebih dikenal dengan Budi Utomo. Pahit manisnya cerita yang ia alami membuat aku ingin mencobanya juga.
‘Wi, kenalin gue sama temen cowok lo dong. Buat jadi abangan aja’ Pintaku sambil memberi alasan sebelum ia memikirkan hal aneh.
Ia memberiku 4 nomor handphone. Pilihan ku tertuju pada 2 nama. Yoga dan Tiyo. Aku melupakan alasan utama ku. Dan, ya aku ingin menjadikan satu diantara dua itu ‘lebih dari kakak’.
Sudah beberapa hari ini aku dan mereka berkomunikasi melalui pesan singkat. Yoga, satu diantara mereka mengajak ku bertemu sesudah pulang sekolah.
‘Ven lo dimana? Gue di depan sekolah lo’
Ku longokkan kepala keluar gerbang. Mencari seseorang yang menggunakan sweater merah-itu kode yang ia berikan-.
24 Desember 2011
‘sorry ya gue nggak bisa nerima lo sebagai pacar. Gue belum mau pacaran’
Tatapannya kosong. Tertuju pada suatu arah. Ia hanya mengangguk. Hening. Diam. Senyap.
Dua hari kemudian. Ia menembakku lagi. Aku tetap pada keteguhan ku kalau aku memang tidak ingin berpacaran.
‘Maaf ya gue masih belum bisa nerima lo. Kita jadi abang adik aja gapapakan?’
Ia tak menjawab. Hanya anggukan kecil dan tersenyum pasrah.
Ku rebahkan diri diatas kasur. 5menit kemudian, handphone berdering.
*two messages received*
‘Hati lo terbuat dari apa? Cukup gue yg lo sakitin kayak gini. Jangan lo ulangin lagi ke orang lain’
‘Lo cewek pertama yang bikin gue uring-uringan kayak gini. Parah lo’
28 Desember 2011
‘Kamu mau kan jadi pacar aku? Jangan ditolak lagi dong’ tatapnya penuh harap.
Dalam hitungan detik bibirku mengeluarkan kata yang seharusnya tidak aku katakan. Ya, aku mengatakan iya. Ah hati memang tidak bisa berbohong.
Ia memelukku dan kami kembali menyusuri basement mall dibilangan Jakarta.
31 Desember 2011
Esok adalah hari ditahun yang baru. Ia mengajakku untuk merayakan malam pergantian tahun bersama teman-temannya.
‘Eh iya, temen kamu ada yang namanya Tiyo kan?’ tanyaku sambil memakai sweater yang ia berikan.
‘Ada. Emang kenapa? Lo suka? Tanyanya sedikit bernada tinggi.
‘Enggak aku cuma nanya’ jawabku terkekeh mengetahui ia cemburu.
Pukul 20.00. Hatiku resah. Mencari kesana kemari orang yang ingin ku temui. Ya-aku- juga-ingin-bertemu-dengan-orang yang kedua diantara ‘mereka’.
Yoga menyadari kalau aku sedari tadi mencari temannya. Iya, Tiyo. Ia tahu bahwa aku ingin menemuinya.
‘Mana temen kamu itu? Kok belum dateng? Tanyaku tanpa dosa.
‘Lo bakal suka sama Tiyo. Dia baik dan lebih cakep dari gue. Liat aja nanti’. Spontan ia mengeluarkan kalimat itu dan menatap mata ku dalam-dalam.
Hmm menantang. Kataku dalam hati.
Saat sedang bercengkrama, tibatiba seorang pemuda turun dari motor tepat dihadapanku. Memakai celana jeans sedengkul dan kaos putih oblong, membawa tas slempang berwarna merah kuning hijau. He mess his hair and fix it! Itu dia. Dia yang kucari. Senyum riang tipis tergambar dari sudut bibirku.
Waktu menunjukkan pukul 00.00. Ku lihat ratusan kembang api menari ria menyambut datangnya tahun baru. Ia mengajak ku berdiri. Melingkarkan kedua lenganku dipinggangnya. Ku rebahkan kepala dibalik punggungnya yang hangat. Pergantian tahun yang indah.
***
Keindahan itu tak bertahan lama. Selang beberapa hari kemudian ia memutuskan ku. Alasannya karena ia menganggap aku menyukai orang lain. Persetan. Kalau memang ingin berpisah tak usah banyak bersilat lidah. Ia hanya bisa membalikkan fakta. Ah dasar lelaki.
Semangatku tak kandas sampai disana. Aku tetap bisa tersenyum walau tanpanya lagi. Ku buang jauh-jauh perasaan ku. Menguburnya hingga ke tempat yang paling dalam. Berharap tak ada seorangpun yang tahu bagaimana hancurnya perasaan ku saat itu. Dan aku yakin akan ada seorang pangeran yang membawakan kuda putih untuk ku. Suatu saat nanti. Mungkin.
(*) frontal dikit dengan nyebut nama tanpa sensor gapapa dong ya hehe
(*) frontal dikit dengan nyebut nama tanpa sensor gapapa dong ya hehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar