Rabu, 01 November 2017

Jejak Rindu


Awal Desember 2011, perkenalan kami melalui pesan singkat.
Akhir Desember 2011, pertemuan perdana kami pada perayaan malam pergantian tahun.
Januari 2012, kesepakatan kami untuk membangun hubungan satu tingkat lebih serius.
Mei 2017, kau menghapus aku.

Hujan hadir lagi. Di sore yang masih sepi aku kembali mengingat dirimu yang tak pernah kuminta pergi. Ribuan huruf kuketik; hanya untuk merindu. Boleh kutanya kembali apa kabarmu, Tuan? Sekarang aku ingin ceritakan satu hal yang tak dapat kujelaskan langsung kepadamu. Tentang diriku kini yang telah rela melepasmu atas hal-hal yang membuatmu pergi. Aku siap tanpa kabarmu. Aku siap tanpa senyummu. Tak ada lagi kami. Hanya aku, kamu, dan kami yang sudah sendiri-sendiri. Cukup sudah aku merintih, menangisi setiap malam karena kau yang tak kunjung datang menghampiri.

Aku belajar bahwa berjuang bukan hanya mempertahankan. Rela melepaskan juga merupakan perjuangan. Karena aku sadar, berjuang sendirian adalah hal yang melelahkan. Semua benda yang kau berikan; tidak ada satupun yang kubuang. Kusimpan rapih dan apik di dalam lemari kecil. Pakaian, hoodie, sepatu yang manis di kaki, tas-tas yang kubutuhkan, foto-foto berdua yang dulu kucetak, dan sebuah cincin emas bertuliskan January 21 di dalam sisinya—yang kau berikan pada tahun jadi kami yang ke-empat, 2016. Cincin yang sampai sekarang masih melingkar cantik di jari manis kananku.

Munafik jika aku berteriak aku bisa melupakanmu. Kau akan tetap ada, meski hanya sebagai yang pernah ada. Walau sempat tak mengira bahwa aku dan kau akan menjadi masalalu. Cerita kita hanya menjadi abu. Padahal rindu ini pernah begitu memburu. Rindu saat kau mengetahui kebohongan-kebohonganku, dan menunggu aku untuk menjelaskan tanpa kau tanyai lebih dulu. Rindu melihat awan mendung dan hujan dari balik jendela kamarmu. Rindu menghitung banyak langkah jemari saat melewati batang hidung dan berhenti di bibirmu. Rindu saat kau menatapku dengan teduh, memegang kedua pundakku dan merubah atmosfer menjadi lebih hangat beberapa derajat.

Semua tentang kau dan kami dahulu akan selalu menjadi hal yang kurindukan.
Untuk doaku padamu yang tak pernah berubah; agar kau selalu bahagia.
Kau bukan hanya baik, kau juga seorang yang amat baik-baik.
Penuhi janji-janji--yang dulu kau ikrarkan padaku--untuk perempuan yang akan menjadi pendamping hidupmu.

Aku telah melewati banyak bersamanya,
dan aku tidak akan lupa dengan rasanya.

Dariku; yang benar-benar melepaskan.

19 Okt ‘17//19.32 pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desember di Jogja

Merasa penat dengan hiruk-pikuk ibukota, macet dan dibuat berjuang setiap hari kerja dengan angkutan urban yang terkadang cukup tidak man...