Awal
Desember 2011, perkenalan kami melalui pesan singkat.
Akhir
Desember 2011, pertemuan perdana kami pada perayaan malam pergantian tahun.
Januari
2012, kesepakatan kami untuk membangun hubungan satu tingkat lebih serius.
Mei 2017, kau menghapus aku.
Hujan hadir
lagi. Di sore yang masih sepi aku kembali mengingat dirimu yang tak pernah
kuminta pergi. Ribuan huruf kuketik; hanya untuk merindu. Boleh kutanya kembali
apa kabarmu, Tuan? Sekarang aku ingin ceritakan satu hal yang tak dapat kujelaskan
langsung kepadamu. Tentang diriku kini yang telah rela melepasmu atas hal-hal
yang membuatmu pergi. Aku siap tanpa kabarmu. Aku siap tanpa senyummu. Tak ada
lagi kami. Hanya aku, kamu, dan kami yang sudah sendiri-sendiri. Cukup sudah
aku merintih, menangisi setiap malam karena kau yang tak kunjung datang
menghampiri.
Aku belajar
bahwa berjuang bukan hanya mempertahankan. Rela melepaskan juga merupakan
perjuangan. Karena aku sadar, berjuang sendirian adalah hal yang melelahkan.
Semua benda yang kau berikan; tidak ada satupun yang kubuang. Kusimpan rapih
dan apik di dalam lemari kecil. Pakaian, hoodie,
sepatu yang manis di kaki, tas-tas yang kubutuhkan, foto-foto berdua yang
dulu kucetak, dan sebuah cincin emas bertuliskan January 21 di dalam sisinya—yang kau berikan pada tahun jadi kami yang
ke-empat, 2016. Cincin yang sampai sekarang masih melingkar cantik di jari
manis kananku.
Munafik jika aku
berteriak aku bisa melupakanmu. Kau akan tetap ada, meski hanya sebagai yang
pernah ada. Walau sempat tak mengira bahwa aku dan kau akan menjadi masalalu. Cerita
kita hanya menjadi abu. Padahal rindu ini pernah begitu memburu. Rindu saat kau
mengetahui kebohongan-kebohonganku, dan menunggu aku untuk menjelaskan tanpa
kau tanyai lebih dulu. Rindu melihat awan mendung dan hujan dari balik jendela
kamarmu. Rindu menghitung banyak langkah jemari saat melewati batang hidung dan
berhenti di bibirmu. Rindu saat kau menatapku dengan teduh, memegang kedua
pundakku dan merubah atmosfer menjadi lebih hangat beberapa derajat.
Semua tentang
kau dan kami dahulu akan selalu menjadi hal yang kurindukan.
Untuk doaku
padamu yang tak pernah berubah; agar kau selalu bahagia.
Kau bukan hanya
baik, kau juga seorang yang amat baik-baik.
Penuhi
janji-janji--yang dulu kau ikrarkan padaku--untuk perempuan yang akan menjadi
pendamping hidupmu.
Aku telah melewati banyak bersamanya,
dan aku tidak akan lupa dengan rasanya.
Dariku; yang benar-benar melepaskan.
19 Okt ‘17//19.32 pm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar